January 23, 2012

Lonely



WHOAA 2NE1(Y)

January 15, 2012

It is eternal*

Gadis itu menghela nafas panjang. Ia menatap gurunya sekilas, lalu beralih ke papan tulis yang penuh akan tulisan-tulisan yang ingin membuat otak Gadis itu meledak. Sambil membuka kembali buku tulisnya ia mencolek bahu teman sebelahnya.
" Sara, istirahat berapa menit lagi?"
Sara menatap jam tangan ungu-nya sekilas. " Jam sepuluh kurang 10 menit, na."
Elina mengangguk lalu berterima kasih. Sekali lagi Elina menghela nafas. 10 menit lagi ia harus menunggu untuk segera keluar dari kelasnya.

Pernah nggak, ngalamin ini? Saking betenya sama pelajaran dikelas, sampai kita selalu menghela nafas dan selalu melihat jam untuk memastikan waktu pelajaran akan berakhir? Pasti lah ya, kita sebagai pelajar pernah ngalamin kebosanan maximum di kelas. 

Bel tanda istirahat berbunyi. Elina yang sedang mencatat tugas dari gurunya segera mempercepat geraknya. Setelah itu ia langsung membereskan barang-barangnya yang ada di atas meja dan menggampiri Sara. Keduanya langsung berjalan keluar kelas dan bergabung dengan kerumunan murid-murid yang sedang berjalan ke cafetaria sekolah.
Elina memelankan langkahnya sedikit. Tatapannya terfokus pada pintu kelas yang masih tertutup. Di benaknya langsung muncul segala hal yang selama ini ia coba tutupi. Tiba-tiba saja ia penasaran, apa orang yang ada di dalam kelas itu juga memikirkan hal yang sama?

Punya rasa ingin tahu dan ketika rasa itu nggak terpenuhi, kalian kesel nggak, sih? Itu adalah salah satu perasaan terburuk yang pernah dialamin. Masalah besarnya bukan ingin tahunya itu, tapi saat kita memikirkan seribu kemungkinan dari hal yang kita ingin tahu...

Elina merapihkan rambut panjang ikalnya. Setelah itu ia meraih ponsel dari kantung rok pendek sekolahnya. Ia menatap layar ponselnya sekilas lalu menaruhnya kembali. Sara baru saja memberitahunya lewat chat kalau guru yang mengajar sudah datang. 
Hari ini Elina sedang tidak bersemangat untuk belajar disekolah. Ada sesuatu yang mengganjal pikirannya dan membuatnya tidak bisa memfokuskan diri pada pelajaran sejak tadi pagi.
Ia melangkahkan kakinya menuju pintu ruang musik. Ia langsung menghentikan langkahnya ketika sampai diambang pintu. Tubuhnya langsung membeku.
Tatapannya terarah ke seorang laki-laki yang berdiri beberapa meter darinya. Laki-laki itu juga ikut terdiam dan menatap Elina. Keheningan sesaat membuat Elina gugup, ia langsung membalikan badannya dan masuk kembali ke dalam ruang musik. Ia menutup pintu lalu bersandar. Jantungnya tiba-tiba berdegup semakin kencang. Elina menghela nafas pendek lalu memejamkan matanya erat.

Salah tingkah ya ini namanya... mmm susah ya nahan untuk tetap biasa. Habis tiba-tiba aja kita dikagetin dengan sesuatu dan kitanya belum siap. Jadinya ya... nahan seribu malu dengan seribu kemungkinan orang yang melihat kita salah tingkah itu.

Elina menatap kedua orang itu dengan tatapan kosong. Ia menghela nafas lalu membalikan badannya. Rasa sesak itu muncul. Matanya mulai basah, air matanya mulai mengaluir. Walaupun ia tahu menangisi semuanya percuma.

Nggak semuanya bisa sesuai dengan apa yang kita harapkan. Terkadang ada maksud lain dibalik hal itu. Tapi... kita manusia, ya, harus kita akui kita nggak sekuat itu untuk nahan nangis. Nangis itu nggak salah kok, tapi kita harus pikirin lagi hal apa yang baik untuk kita tangisi dan apa yang tidak pantas untuk kita tangisi.

Satu setengah tahun kemudian...

Masih.
***

*= those feelings will always be there.

January 4, 2012

Francisco Lachowski


FRANCISCO